Jungle Survival

Setiap Jum’at pagi di kelas D1 Pramugari Kampus STTKD Yogyakarta, mengikuti perkuliahan jungle survival mengenai bagaimana cara bertahan hidup jika kita terjebak di hutan atau di alam terbuka dan jauh dari pemukiman warga. Perkuliahan ini diampu oleh Bapak Marsda TNI (Purn) H. Udin Kurniadi, S.E., M.M.

Pengarahan di awal kegiatan jungle survival Prodi D1 Pramugari STTKD Yogyakarta (22/09/17).

Setelah minggu lalu menerima teori perkuliahan di kelas, hari ini, Jum’at (22/09/17) para taruna-taruni D1 Pramugari melakukan beberapa praktek yang seolah-olah keadaannya seperti di hutan. Mereka mempelajari bagaimana memberikan sinyal atau pesan yang disampaikan ke udara, mempelajari bagaimana jika bertemu binatang buas di hutan bersama pawang dan ular sungguhan, dan memasak makanan untuk bertahan hidup yang bahannya apa yang didapatkan di hutan.

Para Taruna-taruni Prodi D1 Pramugari mempelajari sinyal atau pesan ke udara.

Bapak Suroso, seorang pawang ular yang juga pernah dinas di TNI AU, sengaja diundang untuk memberikan materi tentang bagaimana survival jika bertemu ular. Mulai dari membedakan jenis ular yang berbahaya dan jenis ular yang cukup jinak, membedakan ular yang beracun dan yang bisa dikonsumsi, dan menangkap ular untuk perlindungan diri dan bertahan hidup. Dibawa langsung 1 jenis ular King Cobra berbisa oleh Pak Suroso sebagai contoh pembelajaran. Sisanya Pak Suroso membawa 10 ekor ular sawah untuk disembelih dan diolah menjadi makan siang untuk para taruna-taruni D1 Pramugari pada perkuliahan jungle survival ini.

Untuk bertahan hidup di hutan kita harus bisa memanfaatkan binatang liar, contohnya mengolah ular dan ayam untuk dimakan.

Prodi D1 Pramugari disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk agar mampu bertahan hidup.

Selain itu mereka dari pagi sampai siang melakukan kegiatan penuh di lapangan untuk membuat sandi atau pesan ke udara menggunakan kain berwarna, dan membuat asap untuk sinyal ke udara. Selanjutnya setelah mempelajari penanganan ular, mereka mulai bersiap untuk memasak makan siang dengan pengolahan yang alakadarnya seperti hampir mirip seperti di hutan. Mulai dari menyembelih, menguliti, dan membersihakan ular sendiri sampai memanggangnya di atas api yang dibuat sendiri. Selain ular, ada juga 10 ekor ayam yang mereka sembelih sendiri dan membuat nasi bumbung atau memasak nasi dengan campuran ubi dan santan di dalam bambu dan di bakar di atas api yang berkobar.

Memasak daging ular dan ayam, dan nasi bumbung dengan bumbu dan alat seadanya untuk bertahan hidup.

Setelah mempelajari dan praktek langsung, dilanjutkan dengan makan hasil olahan sendiri bersama-sama.
Bagikan:

Leave a Reply