FGD N219 Amphibi

[Jakarta, 4 Mei 2017] Perwakilan STTKD Yogyakarta -Ketua Prodi Teknik Dirgantara, Bapak Haris Ardianto, S.T., M.Eng.- menghadiri undangan Focus Group Discussion (FGD) N219 Amphibi dari Deputi Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa LAPAN dalam rangka “Implementasi Program Strategis Nasional serta Meningkatkan Kesiapan Komunitas Dirgantara Indonesia (Industri, MRO, IAEC, INACOM, Regulator, dan Akademisi) dari segi Teknis, Project Management dan Bisnis”. Acara dijadwalkan berlangsung dari pukul 08.00-17.30 WIB, bertempat di Ruang Balai Pertemuan Dirgantara Lantai 3-LAPAN Pusat, Jl. Pemuda Persil No. 1 Jakarta.

Pada Pembukaan Sesi I mengangkat tema besar “Mengapa N219-A”, dengan sub-sub tema “Mengapa N219-Amphibi Menjadi Varian Berikutnya untuk Industri Pesawat Terbang Nasional dari Sisi Pengembangan dan Peranan Industri ?; Bagaimana Strategi Airbus Menggandeng  Industri Pendukung Untuk Pengembangan Pesawat Airbus; dan Mengapa Pustekbang (Pusat Teknologi Penerbangan) LAPAN bekerjasama dengan IAEC (Indonesia Aeronautical Engineering Centre) dalam Pengembangan N219-A?”, menghadirkan Keynote Speaker antara lain Kepala LAPAN Bapak Prof. Dr. Thomas Djamaluddin; Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Bapak Dr. Ir. Jumain Appe, M.Si.; Dirjen ILMATE Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Bapak I Gusti Putu Suryawirawan; Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia Bapak Andi Alisjahbana; serta Ketua IAEC Bapak Ir. Hari Tjahjono.

2

Kepala LAPAN memaparkan, bahwa N219 adalah kebangkitan teknologi penerbangan ke 2 setelah N250. Hal ini merupakan upaya membangkitkan teknologi nasional dengan teknologi tinggi pesawat terbang. Rencana Induk Keantariksaan, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Renstra LAPAN yang kesemuanya bermuara dalam Rencana Teknologi Transportasi Udara memberikan arahan bahwa semua pihak memiliki kewajiban untuk terlibat didalamnya. N219 juga menjadi cikal bakal kemandirian teknologi dari bahan local pada masa-masa mendatang. LAPAN bersama PT. DI dan Komunitas Kedirgantaraan-IAEC dan akademisi- akan bersinergi untuk mempercepat penguasaan teknologi dan produksi teknologi-teknologi kedirgantaraan. Setelah N219 lantas apa ? FGD inilah yang diharapkan agar mampu mengristalkan ide dan gagasan, menjabarkan dan mengisi Rencana Strategis Nasional. Pengembangan N219 Amphibi diharapkan mampu menjangkau daerah terpencil di wilayah Indonesia Timur.

Paparan selanjutnya disampaikan oleh Dirjen Inovasi Ristek, bahwa Kemenristekdikti mendukung penuh Rencana Strategi Nasional khususnya dibidang pengembangan teknologi Nasional-pesawat N219- dan berharap Indonesia mampu membangun industry komponen pesawat terbang local yang bestandar. Kemenristekdikti siap mendukung penyiapan SDM melalui kampus dan membangun skill worker untuk pengembangan teknologi nasional ini. Adanya fasilitas-fasilitas laboratorium di kampus-kampus diharapkan kemanfaatannya juga bisa menyumbang pengembangan teknologi, khususnya dalam pengembangan N219.

Tidak kalah getolnya, Dirjen ILMATE Kemenperin juga siap mendukung kebutuhan dan penguasaan teknologi penerbangan Indonesia melalui pengembangan teknologi alat transportasi ini. Industri Pesawat Udara PT. Dirgantara Indonesia dalam hal ini N219 adalah muara kerjasama berbagai stakeholder : Kemenristekdikti, LAPAN, BPPT; Kemenperin; Kemenhub; Design and Engineering (komunitas kedirgantaraan) IAEC; INACOM (components supplier) yang akan menghasilkan produk untuk diserap, dimanfaatkan dan diaplikasikan oleh Pemerintah, Operator dan Industri serta mampu merambah pasar luar negeri. Dirjen juga mendorong, agar kedepan SDM dibawah naungan Kemendikbud anak-anak lulusan SMK diberikan keilmuan dan seluk beluk system N219, agar gayung bersambut siap bersinergi untuk mengisi kebutuhan-kebutuhan SDM yang akan memanufacturing dan maintenance N219.

3

Pada kesempatan yang sama dan waktu yang singkat, Ketua IAEC memaparkan cerita perusahaannya, PT. Abyor Internasional yang dihubungi sebuah perusahaan dari Afrika tepatnya Sudan. Negara yang baru saja lepas dari embargo Amerika Serikat, negara yang baru selesai perang saudara yang membuatnya pecah menjadi dua Negara. Beliau kaget, “kok ada perusahaan dari Negara yang baru selesai perang mencari implementor SAP ?, pasti mereka serius ingin mengembangkan bisnisnya, karena implemantasi SAP itu tidak murah”. Karena penasaran, akhirnya dicari informasi lebih lanjut mengenai perusahaan tersebut, ternyata mereka adalah Integrated Aircraft Industry. Perusahaan ini membuat pesawat (kecil), menyediakan aviation training, sampai dengan aircraft MRO. Hal ini adalah alarm untuk industri penerbangan Indonesia. Indonesia sudah jauh tertinggal, jauh dibandingkan negara-negara berkembang yang lain seperti India dan Brasil. Negara tetangga Malaysia dan Singapura pun sudah mulai meninggalkan kita, apakah akan disalip juga oleh negara-negara Afrika ?. Beliau menyemangati, “ayo bangkit para pelaku industry dirgantara Indonesia. Ayo para anggota IAEC, mari kita singsingkan lengan baju kita untuk kemajuan industri digantara Nasional. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya dukungan pemerintah yang sudah mulai mengalir lagi. Bersama kita bisa !”.

Selanjutnya Pembukaan Sesi II membahas “Persiapan dan Rencana Pengembangan N219-A” dengan sub-sub tema “Persiapan dan Pengembangan N219, sebagai Lesson Learned untuk Pengembangan N219-A; Kajian tentang Kelayakan Pengembangan N219-A; serta Penjelasan tentang Strategi Pengembangan dari Aspek Bisnis, Teknis dan Project Management” menghadirkan narasumber Direktur Produksi PT. Dirgantara Indonesia dan PUSTEKBANG.

Pada Sesi Akhir dibahas tema “Pembahasan Strategi Pengembangan” dengan agenda-agenda diskusi per aspek Bisnis, Teknis dan Project Management dengan dipimpin Narasumber Bapak Ananta Widjaja, Ibu Yuliantika dan Bapak Hari Tjahjono. Akhirnya seluruh rangkaian sesi FGD ditutup dengan agenda Diskusi Paripurna dan Penyimpulan FGD.

Bagikan: